Fakta Menarik Spesies Homo floresiensis

Dijuluki ‘Hobbit’, Manusia Kerdil Dengan Tehnologi Canggih, Fakta Menarik Spesies Homo floresiensis

Fakta Menarik Homo floresiensis – Kamu pasti pernah pelajari tentang sejarah riwayat evolusi manusia, kan?

Bila belum, kelihatannya kamu harus tahu nih, sebab keberadaan mereka di periode lalu masih tersisa teka-teki untuk beberapa periset.

Fakta Menarik Spesies Homo floresiensis

Hobbit, manusia memiliki tubuh kecil seperti pada kreasi fantasi J.R.R Tolkien atau serupa figur kerdil dalam film ‘Lord of The Ring’, Frodo Baggins rupanya tidak seutuhnya fiktif. Salah satunya faktanya berada di negeri kita sendiri.

Penemuannya jadi informasi khusus nyaris satu dasawarsa lalu dan lagi jadi pro-kontra sampai sekarang ini. Berikut bukti dan fakta menarik dari makhluk polemis spesies homo floresiensis, yang memikat dunia sains:

  1. Otak semakin besar dari prediksi

Fakta Menarik Homo floresiensis РManusia hobbit dari Flores rupanya mempunyai otak yang semakin besar dari yang diprediksi awalnya. Ini memberikan dukungan tesis beberapa periset yang menjelaskan, dia kemungkinan ialah cabang unik dari Homo erectus  leluhur manusia.

Baca Juga: Bukti Manusia Telah Ada 5.000 Tahun Lalu

Sekalian menepiskan asumsi jika makhluk ini ialah manusia kekinian dengan microcephalia atau mikrosefalus — satu keadaan yang ke arah kepala yang abnormal, badan kecil dan keterbatasan psikis.

Salah satunya untuk mendapati jawaban atas pertanyaan besar itu, beberapa periset scan interior tengkorak hobbit dengan CT scan memiliki resolusi tinggi. Hasilnya, otak hobbit Flores rupanya semakin besar dari prediksi awalnya. Yaitu 426 cc– sepertiga dari ukuran otak manusia kekinian yaitu 1.300 cc. Awalnya periset memprediksi otak hobbit sejumlah 400 cc.

“Riset ini tidak menunjukkan siapa spesies nenek moyang untuk Homo floresiensis, tapi sudah meniadakan kecemasan untuk mode yang mengandaikan Homo erectus ialah spesies nenek moyangnya,” kata periset Yousuke Kaifu, paleoantropolog dari Museum Pengetahuan Alam dan Sains Tokyo, Jepang ke LiveScience (16/4/2013).

Ada peluang lain, hobbit Flores berevolusi dari Homo habilis, yang otaknya memiliki ukuran cuman seputar 600 cc.

Beberapa periset mengharap, selekasnya ungkap fosil manusia lebih kuno di pulau Flores. Untuk pecahkan mistis yang belum terjawab mengenai Homo floresiensis.

  1. Diketemukan tahun 2003

Liang Bua, tempat ditemukan fosil hobbit telah semenjak periode penjajahan jadi tempat ekskavasi arkeologi dan paleontologi.

Dimulai kerja sama penggalian Indonesia-Australia diawali tahun 2001 untuk cari tapak jejak warisan migrasi leluhur orang Aborigin Australia di Indonesia. Di bulan September 2003, sesudah penggalian pada kedalaman 5 mtr. diketemukan rangka serupa manusia tapi mengagumkan kerdil.

Tulang-tulang itu tidak membatu tapi ringkih dan lembap. Ada sembilan pribadi tetapi tidak ada yang komplet.

Pribadi terkomplet, LB1, diprediksi ialah betina atau wanita, diketemukan pada susunan berumur seputar 18.000 tahun, terbagi dalam tengkorak, tiga tungkai (tidak ada lengan kiri), dan beberapa tulang tubuh. Beberapa individu yang lain berumur di antara 94.000 dan 13.000 tahun

  1. Muka ciri khas hobbit wanita

Berdasar fosilnya, beberapa periset sudah ungkap muka hobbit dari Flores yang sejenis kelamin wanita.

“Dia tidak dapat disebutkan elok, tetapi yang jelas mukanya punyai kekhasan,” kata antropolog, Susan Hayes dari University of Wollongong, New South Wales, Australia, seperti termuat situs sains LiveScience, Selasa (11/12/2012).

Dengan background pengetahuan forensik, Hayes sanggup merekonstruksi muka hobbit wanita setinggi 1 mtr., berumur seputar 30 tahun yang diketemukan di Liang Bua tahun 2003 kemarin.

Muka hobbit Flores dipublikasikan dalam gelaran Pertemuan Arkeolog Australia yang diadakan 9-13 Desember di University of Wollongong.

  1. Diskusi panas

Semenjak diketemukan, rangka hobbit jadi sumber diskusi panas beberapa periset: apa sampel itu sebenarnya spesies yang sudah musnah dari riwayat keluarga manusia, kemungkinan cabang kecil dari Homo erectus, hominid yang hidup 1,8 juta tahun kemarin yang pembagian badannya yang sesuai dengan Homo sapiens moden.

Sesaat, golongan kritikus memiliki pendapat, fosil itu ialah punya manusia dengan microcephalia atau mikrosefalus, satu keadaan yang diikuti dengan kepala kecil dan beberapa salah satunya dibarengi keterbatasan psikis.

Tetapi, sebuah riset tahun 2007 ungkap, ukuran otak hobbit ialah seputar sepertiga ukuran otak manusia dewasa kekinian. Rasionya tidak stabil dengan karakter mikrosefalus.

  1. Musnah dimakan burung?

Memiliki bentuk serupa dengan burung nasar berkepala putih yang sekarang ini hidup di Afrika. Tetapi memiliki bentuk jauh semakin besar.

Tingginya nyaris dua mtr., membubung semakin lebih tinggi dari beberapa hobbit. Ini yang memunculkan pertaruhan: hobbit musnah dimakan burung raksasa.

Seperti termuat Discovery.com, riset terkini yang termuat dalam Jurnal Biogeography yang dipegang Hanneke Meijer dari Pusat Riset Biodiversiti Belanda, menyediakan pilihan jawaban.

Meijer menyangka, burung di Flores di periode itu cari makan secara sama dengan nasar. “Salah satu argumen mereka berada di Liang Bua ialah cari makanan mereka, bangkai,” katanya. Ia menyangka, bangkai bayi stegodon yang dibawa hobbit ke gua mereka, mengundang perhatian burung itu.

  1. Pulau Flores yang terisolasi

Catatan arkeologi memperlihatkan, spesies leluhur manusia, Homo erectus tiba ke Flores, Nusa Tenggara Timur, pada periode pertengan zaman Pleistocene — di antara 781.000 dan 126.000 tahun kemarin.

Homo floresiensis tidak terlihat di saat-saat akhir masa Pleistocene, di antara 126.000 dan 12.000 tahun kemarin.

Meijer percaya sesudah periode isolasi Pulau Flores, Homo erectus menyesuaikan dan berkembang jadi hobbit, walau banyak arkeolog tidak setuju jika manusia purba dari Flores yang memiliki badan dan berotak kecil itu ialah metamorfosa dari Homo erectus.

Kunci untuk pahami hobbit Flores, kata periset Hanneke Meijer, dengan mempersempit cakupan langkah pandang, yaitu konsentrasi di lingkungannya di Flores.

Ia menerangkan, di Flores, berdasar data fosil, beberapa warga pulau, terhitung reptil dan mamalia, mempunyai pengalaman pengkerdilan (dwarfism) atau jadi raksasa (gigantism).

Bukti memberikan, jika beberapa kasus yang terjadi pada hewan yang terisolasi akan alami perombakan besar badan secara mencolok — sebab perombakan pemangsaan atau sumber makanan. Bukannya menyaksikan mundur, arkeolog harus menyaksikan peristiwa di Flores sebagai contoh penyesuaian evolusioner.

Berikut penulis suguhkan tujuh bukti menarik mengenai spesies manusia purba Homo floresiensis.

  1. Diketemukan di Situs Liang Bua, Flores

Homo floresiensis adalah penemuan hominin tipe baru yang diketemukan di Gua Liang Bua di tahun 2003 kemarin. Walau mempunyai ciri-ciri fisik yang lebih ke arah genus ‘homo’, spesies ini mempunyai bentuk badan yang cukup aneh, lho!

  1. Mendapatkan panggilan ‘Hobbit’

Pernah melihat film Hobbit? Yap, watak hobbit dalam film itu dilukiskan sebagai makhluk serupa manusia memiliki tubuh pendek dan condong kerdil. Nah, seperti itu kurang lebih konstruksi badan yang dipunyai oleh spesies Homo floresiensis. Dengan tinggi yang cuman sekitar 1 mtr., spesies ini masuk kelompok manusia pigmi kekinian.

  1. Memakan tikus besar untuk sumber kalori

Kecuali fosil tulang belulang manusia, team ekskavasi Situs Liang Bua mendapati beberapa ribu bagian tersisa tulang hewan yang dikuasai oleh spesies tikus besar. Diperhitungkan kuat, Homo floresiensis dahulunya bertahan hidup lewat cara konsumsi tikus besar yang pasokannya melimpah itu, baik lewat cara dikonsumsi mentah atau dibakar.

Kehadiran spesies tikus besar yang kabarnya cuman bisa ditemui di Pulau Flores itu sampai sekarang masihlah ada. Masyarakat di tempat kerap memakainya sebagai bahan konsumsi.

  1. Tempatnya dalam pohon keluarga manusia belum juga tahu

Volume otak spesies ini benar-benar kecil, bahkan juga cuman sama dengan volume otak simpanse. Tetapi yang mengagetkan, wujud tengkoraknya malah seperti spesies Homo erectus, sama ukuran lengan dan kaki yang pendek.

Oleh karena itu, status mereka belum terang dalam pohon keluarga manusia. Bisa mereka adalah turunan dari leluhur yang mempunyai bentuk badan normal, tetapi habitatnya yang terisolasi mengakibatkan tinggi tubuhnya perlahan-lahan berkurang.

  1. Homo erectus bukan leluhurnya

Berdasar riset oleh Australian National University, Homo floresiensis tidak memperlihatkan banyak keserupaan ciri-ciri fisik dengan Homo erectus, malah lebih ke arah Homo habilis. Hingga dugaan kuat jika Homo erectus bukan leluhur dari Homo floresiensis.

  1. Sempat memetik pro-kontra

Sangkaan awalnya, penemuan tulang belulang manusia yang diketemukan di Situs Liang Bua berumur beberapa anak. Tetapi di tahun 2004, periset umumkan jika tulang itu dideteksi sebagai manusia purba dewasa.

Sayang, banyak periset lain malah menyangsikan hal tersebut dengan alasan mereka jarang-jarang sekali mendapati tersisa tulang belulang manusia kerdil pada tiap riset yang dilaksanakan.

Pro-kontra itu usai di tahun 2009 saat seorang antropolog Amerika, William Jungers sukses menunjukkan jika batas jemari tulang itu sama dengan punya manusia purba.

  1. Hancur seputar 50.000 tahun lalu

Perombakan ekologi mengakibatkan tapak jejak Homo floresiensis, stegodon, dan bangau raksasa yang hidup pada periode itu lenyap dari Gua Liang Bua. Tetapi bukan bermakna musnah, diprediksi mereka lakukan migrasi ke daerah lain.

Opini lain malah menjelaskan jika spesies ini alami kemusnahan karena tidak sanggup berkompetisi dengan spesies manusia yang lain. Hingga cuman dalam sekejap, status mereka sukses terpindahkan. Ini sekalian menolak argument jika spesies ini sempat hidup berdampingan dengan manusia kekinian sampai seputar 13.000 tahun lalu.

Nah, itu ia tujuh bukti menarik atas penemuan spesies Homo floresiensis di Flores. Banyak hal masih jadi mistis, tetapi itu malah jadi rintangan tertentu untuk beberapa periset untuk dapat merusakkannya.